| Foto : Suasana hangat di ruang produksi KWT Embun Pagi saat para anggota berkumpul untuk mengemas produk tepung mocaf dan stik keju. Duduk melingkar di lantai, mereka saling berbagi tugas — mulai dari mengisi wadah, menyegel kemasan, hingga mengepak produk. Beberapa anak kecil tampak ikut menyaksikan, menandai bahwa kegiatan ini bukan sekadar produksi, melainkan ruang belajar bersama yang mewariskan keterampilan dari satu generasi ke generasi berikutnya di desa. |
MUSI BANYUASIN, SUMBARONE.ID — Aroma asam segar yang khas menguat dari ruang pengolahan di Desa Simpang Bayat, Kecamatan Bayung Lencir. Bagi sebagian orang, bau fermentasi itu mungkin asing. Namun bagi belasan perempuan di desa ini, aroma tersebut adalah wangi harapan.
Di tangan mereka, singkong—umbi murah yang kerap kali hanya ditumpuk di pinggir jalan atau dijual murah ke tengkulak—menjalani sebuah metamorfosis. Tak lagi pulang ke pasar dalam bentuk mentah yang kotor, umbi itu dikupas, dicacah, difermentasi, hingga berubah menjadi tepung putih halus bernama mocaf (Modified Cassava Flour).
Mereka adalah 12 perempuan tangguh dari Kelompok Wanita Tani (KWT) Embun Pagi. Nama yang diambil dari embun pagi hari; sejuk, memberi kehidupan, dan menandakan awal yang baru.
Dari Kebun Sayur ke Ruang Produksi
Mundur ke akhir 2021, KWT Embun Pagi sebenarnya tidak lahir dari ide mengolah singkong. Kala itu, sekitar 35 perempuan di desa ini berkumpul dengan niat sederhana: bercocok tanam sayuran. Namun, kondisi pasar dan lingkungan sering kali memiliki jalan ceritanya sendiri.
Arianti, ketua kelompok yang kini menjadi nahkoda bagi 12 anggota aktifnya, mengenang masa-masa transisi itu. "Kelompok kami berdiri tahun 2021. Awalnya fokus pada sayuran. Kemudian kami mendapatkan pelatihan produk tepung mocaf dan mulai mengembangkan produk turunannya," ujarnya sambil menatap tumpukan kemasan produk di ruang produksi.
Perubahan haluan ini tidak terjadi dalam semalam. Meninggalkan kebiasaan menanam dan beralih ke ranah industri pangan rumahan menuntut mentalitas baru. Mereka harus belajar mengendalikan suhu pengeringan, memahami tingkat keasaman saat fermentasi, hingga mengemas produk dengan rapi.
Proses ini menyaring komitmen. Dari 35 wajah yang awalnya hadir, kini tersisa 12 perempuan yang benar-benar mendedikasikan waktu dan peluh mereka. "Untuk sekarang ini anggota yang aktif ada 12 orang. Kalau produksi memang membutuhkan tenaga, sehingga kami memilih anggota yang benar-benar aktif," terang Arianti. Angka 12 ini bukan tentang penyusutan, melainkan tentang soliditas.
| Foto : Ketua KWT Embun Pagi, Arianti (kiri), dan Field Manager PHE Jambi Merang, R. Satrio, tersenyum bangga sembari memamerkan produk inovasi terbaru kelompok: APAR (Alat Pemadam Api Ringan) serbuk berbahan dasar limbah singkong. Di belakang mereka, etalase kayu menampilkan sederet produk olahan Embun Pagi, mulai dari tepung mocaf, eyek-eyek, hingga stik keju mocaf, sebagai bukti bahwa singkong di Desa Simpang Bayat kini memiliki banyak wajah. |
Ketika Singkong Punya Banyak Wajah
Di bawah atap rumah produksi yang kini mereka miliki, singkong tidak lagi memiliki satu nasib. Tepung mocaf yang menjadi fondasi, disulap menjadi setidaknya enam varian produk: tepung bumbu, stik bawang, stik keju, cookies kelapa, hingga kue tradisional eyek-eyek.
Data internal kelompok mencatat lonjakan yang signifikan. Keterampilan anggota melompat dari 35 persen menjadi 75 persen. Frekuensi pertemuan yang dulu hanya sekadar arisan bulanan, kini berubah menjadi rapat evaluasi produksi yang digelar tiga hingga empat kali sebulan.
Puncaknya, produk mereka kini telah mengantongi izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT). Stiker hijau keemasan itu bukan sekadar formalitas, melainkan "paspor" yang memberi jaminan keamanan dan membuka pintu kepercayaan dari konsumen di luar lingkup tetangga terdekat.
Sinergi yang Tumbuh dari Bawah
Perjalanan Embun Pagi tentu tidak berjalan di ruang hampa. Kehadiran PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Jambi Merang melalui Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) menjadi pendorong yang datang di waktu yang tepat.
Namun, narasi yang dibangun di sini bukanlah cerita tentang "perusahaan yang menyelamatkan desa". Field Manager PHE Jambi Merang, R. Satrio Mursabdo, dengan tegas menolak posisi sebagai penyelamat.
"Kami melihat Desa Simpang Bayat sebenarnya sudah menghasilkan dan memiliki produk lokal. Kami dari PHE Jambi Merang lebih mendorong, memicu dan menumbuhkan semangat warga, terutama ibu-ibu KWT Embun Pagi, agar pengolahan singkong dapat berkembang menjadi berbagai produk turunan," jelas Satrio.
Bagi PHE Jambi Merang, pemberdayaan adalah soal mendengarkan. Peta jalan 2025–2027 yang disusun pun berjalan beriringan dengan ritme desa. Tahun 2025 difokuskan pada penguatan fondasi dan budidaya. Memasuki 2026, fokus beralih pada infrastruktur rumah produksi dan legalitas. Dan di 2027, targetnya adalah kemandirian penuh dan kemitraan yang setara.
"Kami tentunya tidak bekerja sendiri. Dukungan dan penggerak dari masyarakat, dalam hal ini KWT Embun Pagi, menjadi hal yang utama bagi kami," tambah Satrio, menegaskan bahwa mesin penggerak utama usaha ini adalah tangan-tangan perempuan di Simpang Bayat itu sendiri.
| Foto : Momen peresmian Rumah Produksi Program Budidaya Singkong KWT Embun Pagi di Desa Simpang Bayat, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin. Acara yang digelar dengan dukungan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Jambi Merang ini turut dihadiri oleh perwakilan SKK Migas, pemerintah daerah, serta anggota kelompok wanita tani. Tumpeng di atas meja menjadi simbol harapan agar usaha pengolahan singkong ini terus bertumbuh dan menghidupi perekonomian warga desa |
Menembus Pasar dan Mimpi Tanpa Limbah
Catatan penjualan dari Juli 2025 hingga Februari 2026 menunjukkan omzet sekitar Rp7.067.000 dari tepung mocaf dan eyek-eyek. Bagi sebuah korporasi, angka ini mungkin tak berarti. Namun bagi 12 perempuan desa, ini adalah pembuktian bahwa produk mereka dibeli dan disukai. Ini adalah tiket awal untuk menembus pasar yang lebih luas. Arianti sadar, jalan masih panjang. "Kami berharap siapa pun yang bisa membantu, baik pemerintah, perusahaan maupun pihak lain, dapat membantu produksi dan pemasaran. Kami ingin produk kami semakin dikenal dan bisa dipasarkan lebih luas," pintanya.
Tak hanya berhenti di piring makanan, pikiran perempuan-perempuan Embun Pagi kini mulai merambah ke limbah. Kulit singkong yang biasanya dibuang atau dijadikan pakan seadanya, kini mulai diujicobakan menjadi prototipe tabung bernilai guna. Sebuah langkah berani yang menyiratkan kesadaran akan lingkungan; bahwa di desa mereka, tidak ada yang boleh terbuang sia-sia.
Lebih dari Sekadar Tepung
Di sudut ruang produksi, Arianti dan rekan-rekannya kembali mengaduk adonan. Kesetaraan gender di desa ini tidak didengungkan lewat seminar mewah, melainkan lewat tepung yang ditabur, oven yang dinyalakan, dan kemasan yang diikat rapat.
KWT Embun Pagi membuktikan bahwa pemberdayaan perempuan desa bukan tentang memberi mereka ikan, atau sekadar memberi kail. Tapi tentang meyakinkan mereka bahwa sungai di halaman rumah mereka sendiri, jika dikelola dengan ilmu dan kerja sama, bisa menghidupi banyak keluarga.
Di Musi Banyuasin, singkong telah menemukan wajah barunya. Dan di tanah Bayung Lencir, embun pagi tak lagi sekadar menetes di daun sayur—ia kini menghidupkan denyut nadi ekonomi desa, setetes demi setetes, menjadi harapan yang tak pernah kering. (*)
Penulis : Dwi Andrian. D