Jakarta, sumbar one — Suasana haru menyelimuti Tennis Indoor Stadium Senayan, Jakarta, Sabtu malam, 5 September 2026. Ribuan pasang mata tertuju ke panggung, menyaksikan sebuah perjalanan panjang kehidupan seorang perempuan yang telah mencapai usia satu abad Rahmi Hatta Istri Wakil Presiden Proklamator Bung Hatta diaula pertemuan Tennis Indoor Stadium Senayan, Jakarta, Sabtu malam, 5 September 202
Di tengah kemeriahan pertunjukan “Satu Abad Rahmi Hatta: Fashion Performance Art Rumah”, sosok Rahmi Hatta dikenang bukan sekadar melalui angka 100 tahun, tetapi melalui perjalanan hidup, keluarga, nilai-nilai, dan kenangan yang telah terbangun selama puluhan tahun.
Sebelum pertunjukan dimulai, anak tertua Rahmi Hatta, Mutia Hatta, didampingi sang suami, tampil menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh tamu undangan. Suaranya menyiratkan rasa syukur sekaligus haru.
Bagi Mutia, malam itu merupakan momen yang sangat istimewa. Keluarga akhirnya dapat merayakan satu abad kehidupan sang ibu bersama orang-orang yang memiliki perhatian dan apresiasi terhadap perjalanan hidupnya.
“Kami sangat bersyukur karena pada hari yang berbahagia ini dapat melaksanakan peringatan satu abad orang tua perempuan kami, Ibu Rahmi Hatta. Ini merupakan perjalanan yang sangat panjang dan penuh makna bagi keluarga kami,” ujar Mutia.
Perjalanan itu, kata Mutia, sesungguhnya telah dimulai ketika sang ibu masih sangat muda. Rahmi Hatta menikah pada usia 19 tahun. Dari usia tersebut, perjalanan sebagai seorang istri dan ibu kemudian dijalani dalam rentang waktu yang begitu panjang hingga mengantarkannya mencapai usia 100 tahun.
“Ibu menikah ketika berusia 19 tahun. Dari situlah perjalanan kehidupan orang tua kami bersama keluarga dimulai. Hari ini, setelah melewati perjalanan yang begitu panjang, kami bisa berkumpul untuk merayakan satu abad kehidupan beliau,” tutur Mutia dengan haru.
Perjalanan seorang perempuan sejak usia 19 tahun hingga mencapai satu abad kehidupan itulah yang kemudian menjadi bagian dari cerita besar yang dibawa ke atas panggung.
Bukan dengan kata-kata semata, tetapi melalui busana, gerak, musik, cahaya, dan visual. Semuanya dirangkai menjadi sebuah fashion performance art yang mencoba menerjemahkan perjalanan kehidupan Rahmi Hatta dalam bahasa seni.
Rumah sebagai Jejak Kehidupan
Pemilihan tema “Rumah” bukan tanpa makna. Rumah menjadi simbol tempat seseorang memulai perjalanan, tumbuh, membangun keluarga, menyimpan kenangan, sekaligus tempat nilai-nilai kehidupan diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Karena itu, “Rumah” dalam pertunjukan tersebut tidak hanya berbicara tentang sebuah bangunan. Ia menjadi metafora tentang keluarga dan kehidupan.
Di dalam rumah, seorang ibu menjalani berbagai peran. Di dalam rumah pula anak-anak tumbuh, mengenal kasih sayang, belajar tentang kehidupan, dan kemudian membawa nilai-nilai tersebut ke generasi berikutnya.
Perjalanan Rahmi Hatta selama satu abad seolah dirangkum melalui panggung yang menjadi ruang untuk kembali mengenang setiap fase kehidupan tersebut.
Malam itu, sejumlah pejabat negara dan tokoh daerah turut hadir menyaksikan pertunjukan. Tampak hadir Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi, serta Wali Kota Bukittinggi H. M. Ramlan Nurmatias, S.H.
Kehadiran mereka menambah arti penting perhelatan yang mempertemukan seni, fesyen, budaya, dan perjalanan kehidupan seorang perempuan yang telah melewati satu abad.
Bagi keluarga, perayaan tersebut bukan hanya tentang usia. Ada rasa syukur atas perjalanan yang telah dilalui, ada penghormatan terhadap sosok ibu, sekaligus ada pesan tentang pentingnya keluarga sebagai tempat nilai-nilai kehidupan tumbuh dan diwariskan.
Di hadapan ribuan penonton, kisah Rahmi Hatta akhirnya kembali kepada satu kata sederhana: Rumah.
Sebuah kata yang mungkin terdengar biasa, tetapi menyimpan perjalanan panjang tentang cinta, keluarga, pengorbanan, kenangan, dan waktu.
Dan pada malam itu, setelah seratus tahun perjalanan hidup, Rahmi Hatta seolah mengajak semua yang hadir untuk melihat kembali arti sebuah rumah—bukan sekadar tempat untuk pulang, tetapi tempat dari mana seluruh perjalanan kehidupan bermula./m.akmal)
