| Foto : Kumpulan dokumentasi kegiatan Program Beeyond Honey: Tim PHE Jambi Merang bersama warga kelompok tani madu dalam pemeriksaan kualitas sarang lebah dan perawatan kotak pemeliharaan (kiri atas & bawah), serta memperagakan teknik pengolahan madu yang higienis dan efisien menggunakan peralatan pendukung (kanan). (Ist) |
TANJUNG JABUNG TIMUR, SUMBARONE.ID – Kehadiran industri hulu minyak dan gas bumi (migas) di wilayah operasi PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Jambi Merang, yang merupakan bagian dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 1, kembali membuktikan bahwa kegiatan eksplorasi dan produksi energi berjalan seiring dan sinergis dengan pembangunan masyarakat serta pelestarian lingkungan. Melalui program unggulan bertajuk Beeyond Honey, pengembangan budidaya lebah madu yang digagas di Desa Sukamaju, Kecamatan Geragai, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, telah melampaui sekadar program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Inisiatif ini kini menjelma menjadi kekuatan penggerak utama yang menciptakan efek berganda luas: mengubah struktur ekonomi masyarakat, menjaga keseimbangan ekosistem, hingga membangun ketahanan ekonomi lokal yang berkelanjutan.
Program yang telah berjalan sejak tahun 2021 ini lahir dari kepedulian mendalam akan ancaman penurunan populasi lebah, yang dikhawatirkan akan mengganggu rantai ekologis dan ketahanan pangan. Dimulai dari jangkauan pengembangan terhadap tiga desa di wilayah Kecamatan Geragai dengan bantuan awal 10 kotak lebah madu per desa, program ini kini tumbuh pesat menjadi model pengelolaan sumber daya alam yang terintegrasi dan menginspirasi. Khusus di Desa Sukamaju, jumlah kotak lebah berkembang drastis mencapai 300 unit, yang kini dikelola secara profesional oleh kelompok tani lokal beranggotakan 10 orang.
Baskoro Adhi Pratomo, Officer Community Involvement and Development Regional 1, menegaskan bahwa program ini adalah wujud nyata komitmen Pertamina dalam mendukung pembangunan nasional. “Kehadiran kami bukan hanya untuk mengelola sumber daya energi, tetapi juga memastikan manfaat ekonomi dirasakan masyarakat tanpa merusak alam. Lebah adalah penanda ekosistem yang sehat. Melalui program ini, kami menjaga keseimbangan alam sekaligus menciptakan sumber penghidupan baru yang berkelanjutan bagi warga sekitar wilayah kerja kami,” ujar Baskoro, menegaskan arah kebijakan perusahaan yang berlandaskan prinsip keberlanjutan.
| Foto : Rumah Produksi dan beberapa produk olahan. (Ist) |
Dampak transformatif paling nyata terlihat dari pergeseran pola pikir dan aktivitas ekonomi masyarakat. Dulu, warga Desa Sukamaju hanya bergantung pada usaha tani konvensional dan memandang pemeliharaan lebah sekadar kegiatan sampingan tanpa teknik pengelolaan yang benar. Kini, berkat pelatihan, pendampingan teknis, dan alih pengetahuan yang intensif dari tim PHE Jambi Merang, mereka telah beralih menjadi pelaku ekonomi kreatif berbasis lingkungan yang mandiri. Warga dibekali keahlian mulai dari pembuatan kotak sarang, perawatan koloni, hingga teknik panen ramah lingkungan yang tidak merusak habitat.
Hasilnya, kualitas madu produksi Sukamaju diakui memiliki keunggulan kompetitif: murni, kental, dan beraroma khas bunga hutan lokal yang tumbuh subur di sekitar kawasan. Secara ekonomi, produktivitas kelompok ini mampu menghasilkan panen antara 150 hingga 250 ton per periode, bergantung pada kondisi cuaca, dengan nilai jual yang sangat menjanjikan yakni berkisar Rp22.000 hingga Rp29.000 per kilogram.
“Perubahan yang kami rasakan sangat besar. Dulu kami sering merusak sarang saat mengambil madu dan hasilnya tidak menentu. Sekarang, berkat ilmu yang kami dapat dari PHE Jambi Merang, kami bisa memanen secara berkala, hasilnya melimpah, dan alam pun tetap terjaga. Ini menjadi mata pencaharian utama yang masa depannya cerah,” ungkap Sutrisno, Ketua Kelompok Lebah Madu Sukamaju, mewakili aspirasi warga.
Lebih dari sekadar peningkatan pendapatan rumah tangga, efek berganda dari program ini merambah ke aspek pelestarian lingkungan yang lebih luas. Kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga tegakan pohon dan keberagaman tanaman berbunga semakin tinggi, karena kelestarian flora adalah jaminan ketersediaan pakan bagi lebah. Hubungan timbal balik ini menjadikan kawasan Desa Sukamaju semakin hijau dan lestari, sekaligus menjadikannya percontohan bagi desa-desa lain di Tanjung Jabung Timur dalam pengelolaan lingkungan hidup.
Dampak ekonomi juga terus melebar ke hilir. Masyarakat tidak lagi hanya menjual produk mentah, tetapi mulai mengembangkan industri pengolahan sederhana namun bernilai tinggi. Berbagai produk turunan kini telah lahir, mulai dari madu kemasan siap konsumsi, lilin lebah, hingga beragam produk pangan olahan rumahan yang diolah dengan standar higienis dan kualitas terjaga.
Untuk memperkuat keberlanjutan dan memperluas jangkauan pasar, PHE Jambi Merang mendorong pembentukan wadah kelembagaan ekonomi formal berupa Koperasi Sukma Jaya. Langkah strategis ini bertujuan merubah pola usaha perorangan yang rentan kendala modal dan pemasaran menjadi sistem kerja kolektif yang terstruktur. Melalui koperasi ini, seluruh mata rantai nilai produk perlebahan mulai dari produksi, pengolahan, hingga pemasaran dapat dikelola secara profesional, efisien, dan berdaya saing tinggi.
| Foto : Tim PHE Jambi Merang berfose bersama Kelompok Tani Madu Sukamaju dan Awak Media, saat berkunjung ke Rumah Produksi Madu dan Koperasi Sukma Jaya. (Ist) |
Satrio Mursabdo, Manager Field PHE Jambi Merang, menekankan bahwa pengelolaan lingkungan yang baik adalah fondasi utama efisiensi dan keberlanjutan industri energi. “Sinergi antara pengelolaan operasi hulu migas dan pemberdayaan masyarakat adalah kunci keberhasilan pembangunan. Program pengembangan masyarakat ini adalah bukti nyata komitmen kami bersinergi dengan pemerintah daerah dalam mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan, sejalan dengan visi besar Pertamina menuju transisi energi, energi hijau, dan inklusif,” tegas Satrio.
Kisah sukses Desa Sukamaju menjadi bukti otentik bahwa industri hulu migas memiliki peran strategis jauh melampaui produksi energi. Melalui inisiatif terencana seperti Beeyond Honey, PHE Jambi Merang telah membuktikan bahwa kehadiran perusahaan energi mampu menjadi katalisator pembangunan yang menciptakan efek berganda: ekonomi tumbuh, masyarakat sejahtera, dan lingkungan lestari. Di tengah dengung lebah dan kemanisan madu, kini tumbuh harapan baru yang kokoh: desa yang mandiri, alam yang terjaga, dan masa depan yang lebih cerah dan berkelanjutan bagi seluruh warga.
Penulis : Dwi Andrian. D