| Foto : Abdullah, Ketua Lembaga Desa Pengelola Hutan Desa (LDPHD) Sungsang IV, sosok penggerak utama penghijauan pesisir. Kolase foto di sebelah kiri menampilkan transformasi kawasan: kondisi lahan gundul yang rawan abrasi, proses penanaman mangrove bersama warga, hingga pemandangan saat ini yang telah rimbun dan hijau, berkat dukungan program kemitraan PT Medco E&P. (Doc.Red/ist) |
BANYUASIN, SUMBARONE.ID – Di pesisir timur Kabupaten Banyuasin, tepatnya di Desa Sungsang IV, Kecamatan Banyuasin II, pemandangan kini berubah drastis. Hutan mangrove yang rimbun kini berdiri kokoh sebagai benteng alam, padahal dua tahun silam kawasan ini gundul, rentan abrasi, dan terancam hilang tergerus laut.
Perubahan besar ini bermula dari kepedulian Abdullah (48), warga lulusan SD yang sehari-hari pedagang kebutuhan nelayan, yang mengajak warga berhenti merambah hutan dan mulai memulihkan lahan yang rusak. Di bawah kepemimpinannya sebagai Ketua Lembaga Desa Pengelola Hutan Desa (LDPHD), langkah warga ini kemudian bertemu dengan dukungan strategis dari industri hulu migas, melahirkan sebuah kerja sama yang tidak hanya menyelamatkan lingkungan, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian desa secara menyeluruh.
Awal Keprihatinan Menjawab Tantangan Kerusakan Lingkungan
Abdullah menyadari bahwa kerusakan hutan akibat pembukaan lahan sembarangan telah membuat pasang laut tinggi menjadi ancaman nyata bagi pemukiman.
"Kami merasakan dampaknya langsung. Jika tidak ada yang bertindak, desa ini bisa tergerus habis. Maka kami bergerak, dan beruntung langkah kami mendapat dukungan nyata agar usaha ini berkelanjutan," ujar Abdullah.
Dukungan itu hadir lewat rekomendasi Dinas Kehutanan Sumatera Selatan dan Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Palembang-Banyuasin, yang menjembatani kemitraan dengan PT Medco E&P melalui program Tanggung Jawab Sosial (CSR), bukti nyata bagaimana operasi hulu migas berkomitmen tumbuh sejalan dengan kelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat.
| Foto : Sejumlah perwakilan dari Lembaga Desa Pengelola Hutan Desa (LDPHD) Sungsang IV dan tim PT Medco E&P berfoto bersama di lokasi penanaman mangrove tahun 2022. Kehadiran mereka menandai komitmen kemitraan strategis dalam program rehabilitasi pesisir, yang telah berhasil mengubah lahan gundul menjadi kawasan hijau rimbun, sekaligus mendorong lahirnya efek berganda ekonomi dan kesejahteraan bagi masyarakat Desa Sungsang IV, Kabupaten Banyuasin. (Doc.Red) |
Kemitraan Hulu Migas: Pemicu Efek Berganda Berlipat Ganda
Dalam kerja sama ini, kepercayaan penuh diserahkan kepada masyarakat. LDPHD Sungsang IV memegang kendali penuh mulai dari pembibitan, penanaman, hingga perawatan, didukung penuh oleh program rehabilitasi pesisir perusahaan migas. Dalam waktu dua tahun, lebih dari 31 ribu bibit mangrove jenis Avecennia dan Rhizophora tertanam di 3,5 hektare lahan, dengan target perluasan hingga 13 hektare. Keberhasilan penanaman ini menjadi titik awal lahirnya efek berganda luar biasa yang menjalar ke berbagai sisi kehidupan warga, membuktikan bahwa investasi lingkungan dari sektor hulu migas membawa dampak ekonomi yang nyata dan berantai.
Efek pertama terasa langsung pada penciptaan lapangan kerja lokal. Ribuan bibit yang ditanam tidak tumbuh sendiri; proses pembibitan, pengolahan lahan, hingga pemeliharaan melibatkan puluhan warga desa, membuka sumber penghasilan tambahan yang stabil.
Tidak hanya tenaga kerja, kebutuhan logistik untuk kegiatan penanaman membuka peluang usaha baru, warga kini mendapatkan pemasukan dari penyewaan perahu untuk mengangkut bibit dan peralatan, serta penyediaan kebutuhan operasional lainnya. Setiap tahapan program yang dijalankan sebagai bagian dari operasi berkelanjutan perusahaan migas, secara otomatis memutar roda ekonomi mikro di tingkat desa.
Lebih jauh lagi, dampak ekologis yang dihasilkan berbalik menjadi keuntungan ekonomi bagi sektor perikanan. Dengan tumbuh rapatnya hutan mangrove, abrasi dan erosi yang dulu merajalela kini terhenti. Akar bakau yang kokoh tidak hanya menahan tanah, tetapi menjadi tempat berkembang biak dan tempat berlindung alami bagi ikan, udang, dan kepiting. Hasilnya sangat terasa bagi para nelayan, jumlah tangkapan meningkat signifikan dari hari ke hari. Apa yang dimulai sebagai upaya pelestarian, berubah menjadi peningkatan pendapatan rutin bagi nelayan, membuktikan bahwa investasi pelestarian alam oleh industri hulu migas memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi warga pesisir.
| Foto : Berbagai produk olahan hasil UMKM warga Desa Sungsang IV, bukti nyata efek berganda ekonomi dari keberadaan hutan mangrove. Tampak botol sirup buah pedada yang segar dan kemplang udang renyah, kuliner khas desa yang kini menjadi unggulan dan menambah nilai ekonomi hasil kekayaan alam pesisir yang terjaga kelestariannya. (Doc.Red) |
Lahirnya Ekonomi Kreatif dan Transformasi Desa Wisata
Efek berganda dari keberadaan hutan mangrove yang lestari tidak berhenti di situ. Keberhasilan program ini menginspirasi kaum perempuan Desa Sungsang IV untuk berinovasi memanfaatkan potensi sumber daya alam yang ada. Dari hutan mangrove yang terjaga, mereka mengembangkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan mengolah buah pedada menjadi sirup dan dodol yang manis dan bernilai jual tinggi.
Melimpahnya hasil tangkapan ikan dan udang pun diolah menjadi kuliner khas seperti kemplang dan pempek udang yang kini menjadi identitas rasa desa ini. Kesejahteraan yang tumbuh dari kemitraan ini merata hingga ke rumah tangga, memberdayakan perempuan dan menambah nilai ekonomi produk lokal.
Perubahan wajah lingkungan dan bangkitnya ekonomi kreatif ini pun mengangkat derajat desa. Berkat hutan mangrove yang rimbun dan tertata rapi berkat program rehabilitasi tersebut, Desa Sungsang IV kini resmi ditetapkan sebagai salah satu Desa Wisata.
Kedatangan pengunjung yang ingin menikmati keindahan pesisir dan mencicipi kuliner lokal menjadi sumber pemasukan baru lainnya, melengkapi rantai manfaat panjang yang bersumber dari satu langkah awal, penghijauan yang didukung kemitraan strategis hulu migas.
Romi Adi Candra, Kepala Desa Sungsang IV, menegaskan bahwa program ini adalah bukti kerja sama yang paripurna.
"Bagi kami, mangrove bukan sekadar pohon penahan ombak. Keberadaannya berkat dukungan program ini telah mengubah nasib ekonomi warga dari hulu ke hilir. Ini bukan sekadar menanam, tapi membangun kesadaran bahwa laut dan pesisir adalah aset ekonomi yang harus dijaga demi masa depan," ujarnya.
Sementara itu, Hirmawan Eko Prabowo, Manager Field Community & CID PT Medco E&P, menegaskan bahwa segala dampak positif ini adalah tujuan utama dari keberadaan perusahaan.
"Program penghijauan pesisir adalah bukti nyata komitmen kami sebagai industri hulu migas untuk tumbuh dan berkembang bersama masyarakat. Kami tidak hanya beroperasi dan mengambil sumber daya alam, tetapi berinvestasi memulihkannya agar memberi manfaat berlipat ganda: lingkungan terjaga, ekonomi berputar, dan kesejahteraan masyarakat meningkat berkelanjutan. Keberhasilan di Sungsang IV adalah model bahwa sinergi ini sangat mungkin dan sangat bermanfaat," tegas Hirmawan.
Kisah Sungsang IV membuktikan satu hal penting: kemitraan antara masyarakat, pemerintah, dan industri hulu migas dalam pelestarian lingkungan menghasilkan efek berganda yang kuat. Dari satu bibit mangrove, tumbuh lapangan kerja, meningkat hasil tangkapan, lahir produk kreatif, dan tercipta desa wisata. Di sini, mangrove menjadi simbol bahwa pelestarian alam dan kemajuan ekonomi adalah dua hal yang berjalan beriringan, saling menguatkan demi masa depan yang lebih baik.
Penulis : Dwi Andrian. D